BANYUATES - Bila tidak ada kendala teknis, proyek pembangunan fisik Waduk Nipah yang berlokasi di Desa Montor, Kecamatan Banyuates bakal selesai Agustus mendatang. Informasi ini, disampaikan saat membuka resmi acara Kumpul Bareng Bersama Kepala Desa (Kades) se Banyuates di Pendapa Graha Bhakti Praja, kemarin. FISIK WADUK NIPAH CAPAI 95%
BANYUATES - Bila tidak ada kendala teknis, proyek pembangunan fisik Waduk Nipah yang berlokasi di Desa Montor, Kecamatan Banyuates bakal selesai Agustus mendatang. Informasi ini, disampaikan Camat Banyuates Sudarmanto saat membuka resmi acara Kumpul Bareng Bersama Kepala Desa (Kades) se Banyuates di Pendapa Graha Bhakti Praja, kemarin.
“Itu, jika tidak terganjal hal lain. Pasalnya, saat ini pembangunan fisiknya sudah mencapai sekitar 95 persen,” aku Sudarmanto. Disebutkan, saat ini tinggal finishing dan menutup serta mengisi air waduk guna dibendung.
Namun demikian, lanjut dia, masih ada beberapa pekerjaan lanjutan yang harus dilakukan guna menyempurnakan pembangunan proyek fisik Waduk Nipah. Kegiatan pembangunan fisik lanjutan tersebut adalah, membangun saluran primer dan dan sekunder. “Dan pembangunan saluran ini merupakan tanggungjawab penuh pemkab setempat,” katanya.
Lalu, kapan akan dilakukan penutupan dan pengisian air waduk? Menanggapi pertanyaan tersebut, Sudarmanto belum bisa memastikan. Pasalnya, pengisian air ke waduk harus menunggu ijin dan sertifikasi pengisian dari Menteri Pekerjaan Umum (PU) RI. “Informasinya, Bapak Manteri PU bisa menerbitkan izin jika pembebasan tanah di genangan waduk sudah selesai,” ungkapnya.
Mantan camat Pangarengan ini menambahkan, sampai saat ini ada sekitar 10 hektar tanah di daerah genangan waduk yang belum dibebaskan. Itu, diperkuat laporan dari konsultas proyek. “Saat ini, sedang dilakukan negoisasi. Doakan saja, dalam waktu dekat sudah ada kesepakatan,” katanya.
Dijelaskan juga, Waduk Nipah nantinya diprediksi bisa mengairi sawah penduduk seluas sekitar 1.150 hektar. Waduk yang memiliki tinggi 22.50 meter dengan panjang bendungan sekitar 110.85 meter tersebut, nantinya diperkirakan bisa menampung sekitar 6.16 juta meter kubik. “Tapi daya tampung efektifnya hanya sekitar 5.04 juta meter kubik,” terangnya.
Sekedar diketahui, guna menyerap aspirasi masyarakat Banyuates, pihak kecamatan selalu rutin menggelar Kumpul Bareng dengan 20 kades yang tergabung dalam Ikatan Kepala Desa (IKASA) Banyuates. Acara yang berisi paparan tentang program pembangunan dan pemerintahan tersebut, didukung Radar Madura dan dihadiri Kabiro Radar Sampang A. Mulki Fawi Putra.
MADURA
Keunikan, Keindahan dan Sumber Daya Alam yang Terpendam Di Kehidupan Dunia.
Sabtu, 26 Juni 2010
MADURA ISLAND
MADURA adalah nama pulau yang terletak di sebelah timur laut Jawa Timur. Pulau Madura besarnya kurang lebih 5.250 km2 (lebih kecil daripada pulau Bali), dengan penduduk sekitar 4 juta jiwa.
Lokasi Asia Tenggara
Koordinat 7°0′ LS 113°20′ BT
Kepulauan Kepulauan Sunda Besar
Wilayah 4,250 km²
Madura dibagi menjadi empat kabupaten, yaitu:
Bangkalan
Sampang
Pamekasan
Sumenep
Pulau ini termasuk provinsi Jawa Timur dan memiliki nomor kendaraan bermotor sendiri, yaitu "M".
SEJARAH
Secara politis, Madura selama berabad-abad telah menjadi subordinat daerah kekuasaan yang berpusat di Jawa. Sekitar tahun 900-1500, pulau ini berada di bawah pengaruh kekuasaan kerajaan Hindu Jawa timur seperti Kediri, Singasari, dan Majapahit. Di antara tahun 1500 dan 1624, para penguasa Madura pada batas tertentu bergantung pada kerajaan-kerajaan Islam di pantai utara Jawa seperti Demak, Gresik, dan Surabaya. Pada tahun 1624, Madura ditaklukkan oleh Mataram. Sesudah itu, pada paruh pertama abad kedelapan belas Madura berada di bawah kekuasaan kolonial Belanda (mulai 1882), mula-mula oleh VOC, kemudian oleh pemerintah Hindia-Belanda. Pada saat pembagian provinsi pada tahun 1920-an, Madura menjadi bagian dari provinsi Jawa Timur.
EKONOMI
Secara keseluruhan, Madura termasuk salah satu daerah yang ekonominya menengah kebawah di provinsi Jawa Timur. Tidak seperti Pulau Jawa, tanah di Madura kurang subur untuk dijadikan tempat pertanian. Kesempatan ekonomi lain yang terbatas telah mengakibatkan pengangguran dan kemiskinan. Faktor-faktor ini telah mengakibatkan imigrasi jangka panjang dari Madura sehingga saat ini banyak masyarakat suku Madura tidak tinggal di Madura. Penduduk Madura termasuk peserta program transmigrasi terbanyak.
Pertanian subsisten (skala kecil untuk bertahan hidup) merupakan kegiatan ekonomi utama. Jagung dan singkong merupakan tanaman budi daya utama dalam pertanian subsisten di Madura, tersebar di banyak lahan kecil. Ternak sapi juga merupakan bagian penting ekonomi pertanian di pulau ini dan memberikan pemasukan tambahan bagi keluarga petani selain penting untuk kegiatan karapan sapi. Perikanan skala kecil juga penting dalam ekonomi subsisten di sana.
Tanaman budi daya yang paling komersial di Madura ialah tembakau. Tanah di pulau ini membantu menjadikan Madura sebagai produsen penting tembakau dan cengkeh bagi industri kretek domestik. Sejak zaman kolonial Belanda, Madura juga telah menjadi penghasil dan pengekspor utama garam.
Bangkalan yang terletak di ujung barat Madura telah mengalami industrialisasi sejak tahun 1980-an. Daerah ini mudah dijangkau dari Surabaya, kota terbesar kedua di Indonesia, dan dengan demikian berperan menjadi daerah suburan bagi para penglaju ke Surabaya, dan sebagai lokasi industri dan layanan yang diperlukan dekat dengan Surabaya. Jembatan Suramadu yang sudah beroperasi sejak 10 Juni 2009, diharapkan meningkatkan interaksi daerah Bangkalan dengan ekonomi regional.
BUDAYA
Madura terkenal dengan budaya Karapan sapinya.
DAFTAR TOKOH
Raden Wijaya
Sakera
Tyron Paspa
Trunojoyo
Kiai Pragalbo ...-1531. Ayah dari:
Kiai Pratanu Panembahan Lemah Duwur 1531-1592. Ayah dari:
Pangeran Tengah 1592-1621. Saudara dari:
Pangeran Mas 1621-1624
Pangeran Praseno Pangéran Tjokro di Ningrat I 1624-1647. Anak dari Tengah and Ayah dari:
Pangeran Tjokro di Ningrat II 1647-1707, Panembahan 1705. Ayah dari:
Raden Temenggong Sosro di Ningrat Pangeran Tjokro di Ningrat III 1707-1718. Saudara dari:
Raden Temenggong Suro di Ningrat Pangeran Tjokro di Ningrat IV 1718-1736. Ayah dari:
Raden Adipati Sejo Adi Ningrat I Panembahan Tjokro di Ningrat V 1736-1769. Kakek dari:
Raden Adipati Sejo Adi Ningrat II Panembahan Adipati Tjokro di Ningrat VI 1769-1779
Panembahan Adipati Tjokro di Ningrat VII 1779-1815, Sultan Bangkalan 1808-1815. Anak dari Tjokro di Ningrat V dan Ayah dari:
Tjokro di Ningrat VIII, Sultan Bangkalan 1815-1847. Saudara dari:
Panembahan Tjokro di Ningrat IX, Sultan Bangkalan 1847-1862. Ayah dari:
Panembahan Tjokro di Ningrat X, Sultan Bangkalan 1862-1882
Lokasi Asia Tenggara
Koordinat 7°0′ LS 113°20′ BT
Kepulauan Kepulauan Sunda Besar
Wilayah 4,250 km²
Madura dibagi menjadi empat kabupaten, yaitu:
Bangkalan
Sampang
Pamekasan
Sumenep
Pulau ini termasuk provinsi Jawa Timur dan memiliki nomor kendaraan bermotor sendiri, yaitu "M".
SEJARAH
Secara politis, Madura selama berabad-abad telah menjadi subordinat daerah kekuasaan yang berpusat di Jawa. Sekitar tahun 900-1500, pulau ini berada di bawah pengaruh kekuasaan kerajaan Hindu Jawa timur seperti Kediri, Singasari, dan Majapahit. Di antara tahun 1500 dan 1624, para penguasa Madura pada batas tertentu bergantung pada kerajaan-kerajaan Islam di pantai utara Jawa seperti Demak, Gresik, dan Surabaya. Pada tahun 1624, Madura ditaklukkan oleh Mataram. Sesudah itu, pada paruh pertama abad kedelapan belas Madura berada di bawah kekuasaan kolonial Belanda (mulai 1882), mula-mula oleh VOC, kemudian oleh pemerintah Hindia-Belanda. Pada saat pembagian provinsi pada tahun 1920-an, Madura menjadi bagian dari provinsi Jawa Timur.
EKONOMI
Secara keseluruhan, Madura termasuk salah satu daerah yang ekonominya menengah kebawah di provinsi Jawa Timur. Tidak seperti Pulau Jawa, tanah di Madura kurang subur untuk dijadikan tempat pertanian. Kesempatan ekonomi lain yang terbatas telah mengakibatkan pengangguran dan kemiskinan. Faktor-faktor ini telah mengakibatkan imigrasi jangka panjang dari Madura sehingga saat ini banyak masyarakat suku Madura tidak tinggal di Madura. Penduduk Madura termasuk peserta program transmigrasi terbanyak.
Pertanian subsisten (skala kecil untuk bertahan hidup) merupakan kegiatan ekonomi utama. Jagung dan singkong merupakan tanaman budi daya utama dalam pertanian subsisten di Madura, tersebar di banyak lahan kecil. Ternak sapi juga merupakan bagian penting ekonomi pertanian di pulau ini dan memberikan pemasukan tambahan bagi keluarga petani selain penting untuk kegiatan karapan sapi. Perikanan skala kecil juga penting dalam ekonomi subsisten di sana.
Tanaman budi daya yang paling komersial di Madura ialah tembakau. Tanah di pulau ini membantu menjadikan Madura sebagai produsen penting tembakau dan cengkeh bagi industri kretek domestik. Sejak zaman kolonial Belanda, Madura juga telah menjadi penghasil dan pengekspor utama garam.
Bangkalan yang terletak di ujung barat Madura telah mengalami industrialisasi sejak tahun 1980-an. Daerah ini mudah dijangkau dari Surabaya, kota terbesar kedua di Indonesia, dan dengan demikian berperan menjadi daerah suburan bagi para penglaju ke Surabaya, dan sebagai lokasi industri dan layanan yang diperlukan dekat dengan Surabaya. Jembatan Suramadu yang sudah beroperasi sejak 10 Juni 2009, diharapkan meningkatkan interaksi daerah Bangkalan dengan ekonomi regional.
BUDAYA
Madura terkenal dengan budaya Karapan sapinya.
DAFTAR TOKOH
Raden Wijaya
Sakera
Tyron Paspa
Trunojoyo
Kiai Pragalbo ...-1531. Ayah dari:
Kiai Pratanu Panembahan Lemah Duwur 1531-1592. Ayah dari:
Pangeran Tengah 1592-1621. Saudara dari:
Pangeran Mas 1621-1624
Pangeran Praseno Pangéran Tjokro di Ningrat I 1624-1647. Anak dari Tengah and Ayah dari:
Pangeran Tjokro di Ningrat II 1647-1707, Panembahan 1705. Ayah dari:
Raden Temenggong Sosro di Ningrat Pangeran Tjokro di Ningrat III 1707-1718. Saudara dari:
Raden Temenggong Suro di Ningrat Pangeran Tjokro di Ningrat IV 1718-1736. Ayah dari:
Raden Adipati Sejo Adi Ningrat I Panembahan Tjokro di Ningrat V 1736-1769. Kakek dari:
Raden Adipati Sejo Adi Ningrat II Panembahan Adipati Tjokro di Ningrat VI 1769-1779
Panembahan Adipati Tjokro di Ningrat VII 1779-1815, Sultan Bangkalan 1808-1815. Anak dari Tjokro di Ningrat V dan Ayah dari:
Tjokro di Ningrat VIII, Sultan Bangkalan 1815-1847. Saudara dari:
Panembahan Tjokro di Ningrat IX, Sultan Bangkalan 1847-1862. Ayah dari:
Panembahan Tjokro di Ningrat X, Sultan Bangkalan 1862-1882
Langganan:
Postingan (Atom)